Nilai Filosofis Tradisi Bugis MAPPACCI

Tradisi bugis MAPPACCI dinilai memiliki nilai filosofis yang tinggi bagi orang Bugis-Makassar.

MAPPACCI merupakan tradisi Bugis Makassar yang sudah dipraktekkan sejak lama, yaitu sejak pra-Islam.

Tradisi MAPPACCI oleh ulama besar, Anregurutta Daud Ismail (asal Bone) kemudian di-Islamkan, atau Anregurutta Daud Ismail sebagai Ulama Besar asal Bone membenarkan tradisi MAPPACCI.

Lalu apa dan bagiaman tradisi MAPPACCI itu?

MAPPACCI adalah tradisi yang dimaksudkan sebagai tanda mensucikan diri dan jiwa sebelum memasuki rumah tangga, atau bagi calon pengantin baru, untuk calon mempelai pria dan wanita.

Adapun alat yang digunakan dalam proses MAPPACCI diantaranya adalah bantal, daun pacci/pacar, daun kelapa, daun pisang, gula, sarung sutera, lilin/pelleng dll.

Masing-masing alat tersebut memiliki filosofinya sendiri. Bantal adalah tempat kepala, bantal adalah simbol kehormatan, bantal adalah titik sentral manusia. Ini dimaksudkan agar pengantin mengenal identitas dirinya sebagai makhluk Allah SWT yang mulia dan punya kehormatan.

Dalam proses MAPPACCI di atas bantal diletakkan sarung sutra/lipa sabbe. Sarung adalah simbol ketekunan seperti pembuat/penenun sarung, sehelai demi sehelai benang, akhirnya menjadi sarung dan penutup aurat, jauh dari siri’.

Berikutnya adalah daun pisang. Daun pisang adalah simbol sifat pisang, tidak layu sebelum punya tunas/anak, ini agar pasangan calon pengantin tidak gampang menyerah dan optimis punya keturunan.

Kemudian di atas daun pisang, terkadang diletakkan daun nangka. Daun nangka menyimpan makna mendalam. Pribahasa Bugis: Dua mitu mamala ri yala sappo ri lalenna atuwongnge, iyanaritu: unganna panasae (lempu) sibawa benona kanukue (paccing). Maksudnya adalah, dalam mengarungi kehidupan dunia, ada dua sifat yang harus dipegang: kejujuran dan kesucian.

Adapun gula merah dan kelapa muda juga memiliki makna. Menikmati kelapa muda, terasa kurang lengkap tanpa gula merah. Kelapa muda identik dengan gula merah untuk mencapai rasa yang nikmat.

Seperti itulah kehidupan rumah tangga, diharapkan suami-istri senantiasa bersama, saling melengkapi kekurangan dan menikmati pahit-manisnya kehidupan.

Terakhir, MAPPACCI dilengkapi lilin/pesse’, simbol penerang.

Dahulu, nenek moyang kita memakai pesse’ (lampu tradisional berbahan kemiri). Agar suami-istri mampu menjadi penerang bagi masyarakat di masa yang akan datang.

Itulah perlengkapan standar yang sering digunakan ketika diadakan prosesi adat Mappacci, di tanah Bugis-Makassar.

Semoga bermanfaat. Tulisan ini disadur dari beberapa sumber.

Oleh : M. SALEH MUDE