Opini  

Indonesia Punya Perkebunan Sawit Terluas, Tapi Ketersediaan Minyak Goreng Langka

Oleh : Robby Jundi Lestari, M. Pd (Dosen STAI Ma’arif Sarolangun)

Minyak goreng merupakan kebutuhan dasar masyarakat Indonesia saat ini, mulai dari ibu-ibu rumah tangga, pedagang kecil, serta UMKM sangat bergantung dengan minyak goreng ini. Akan tetapi mulai dari awal bulan Januari lalu telah terjadi kenaikan harga dan kelangkaan minyak goreng. Kelangkaan minyak gorang ini hingga sekarang belum tahu sampai kapan akan berakhir. Pada awal Januari lalu harga minyak goreng di pasaran mencapai Rp19.000 dan ada juga yang harga Rp 24. 000 bahkan di bulan Februari harga minyak goreng mencapai Rp26.000 tergantung kemasannya.

Kenaikan harga dan kelangkaan minyak goreng ini terjadi hampir merata di seluruh Indonesia. Tidak hanya di pulau Jawa, kenaikan harga dan kelangkaan minyak goreng juga terjadi di berbagai kota di luar pulau Jawa. Di Singkut Sarolangun misalnya antrian masyarakat masih terlihat di minimarket untuk mendapatkan minyak goreng. Hal yang sama juga terjadi di Jakarta, Lubuk Linggau, Sumedang, Cimahi, Medan, Sukabumi, Lampung, Bojonegoro, Ponorogo dan berbagai kota lainnya di Indonesia. Masyarakat berdesakan untuk mendapatkan minyak goreng murah di pasaran.

Indonesia sebagai penghasil CPO terbesar di dunia setelah sebelumnya di pegang oleh negeri jiran Malaysia. Dilansir dari databoks.katadata.co.id bahwa luas perkebunan kelapa sawit  mencapai 15,08 juta ha pada tahun 2021 yang artinya jauh lebih besar dan luas dibandingkan Malaysia yang hanya memiliki 6 juta hektar saja. Dari luas lahan 15,08 juta ha Indonesia mampu memproduksi 46,88 juta ton Crude Palm Oil (CPO) di tahun 2021 meski jumlah itu turun 0,31% dari tahun 2020.

Jika dilihat dari data databoks.katadata.co.id tersebut tentu Indonesia memiliki cadangan minyak goreng yang melimpah dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pasalnya kebutuhan masyarakat dengan menyak goreng ini sangat tinggi dan menjadi sentral mobilitas ekonomi terutama pedagang kaki lima, rumah tangga, sampai tukang tahu dan sosis di pinggiran jalan sangat bergantung dengan minyak goreng ini.  Maka terlihat aneh bila negeri ini kaya akan minyak mentah kelapa sawit atau CPO namun masyarakat sendiri mengalami kesulitan minyak goreng. Sementara itu seperti yang dilansir dari katadata.co.id bahwa nilai ekspor CPO Indonesia di Oktober tahun 2021 mencapai fase tertinggi dalam sejarah Indoenesia yaitu 3,213 juta ton hingga Maret 2022 ini minyak goreng masih sulit didapatkan.

Dengan produksi yang begitu besar, terlihat aneh apabila Indonesia mengalami kelangkaan minyak goreng, akan tetapi faktanya begitulah yang terjadi sekarang di masyarakat mengalami kesulitan untuk mendapatkan minyak goreng tersebut. Meskipun pemerintah telah melakukan upaya-upaya untuk mengatasi masalah kelangkaan minyak goreng ini dengan melakukan operasi pasar dan mengeluarkan aturan baru untuk mengatur harga eceran tertinggi (HET) namun belum mampu untuk menekan harga dan kelangkaan minyak goreng ini.

Fenomena antrean dan desakan masyarakat untuk mendapatkan minyak goreng harga murah masih berlangusung di berbagai kota di Indonesia, di berbagai tempat belanja seperti Alfamart, Indomaret, serta di tempat-tempat operasi pasar masih saja ramai oleh warga yang antri, kerumumanan masyarakat di tempat pembagian dan penjualan minyak goreng belum tampak berkurang.

Dalam keadaan masyarakat yang sudah jatuh ditimpa tangga, harga minyak mahal dan juga langka itu ada saja orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang memperparah keadaan dalam negeri dengan menimbun minyak goreng. Bahkan menurut pakar ekonomi Universitas Airlangga Rossanto Dwi handoyo kurangnya suplai minyak goreng dari produsen di pasaran menjadi sebab utama terjadinya kelangkaan minyak goreng ini.

Harga minyak goreng belum stabil, harga pangan yang lain seperti cabai, telur, daging bawang merah juga ikut naik. Menurut Kompas TV harga cabai mengalami kenaikan tertinggi per 7 Maret mencapai harga Rp80.000 perkilo dari sebelumnya hanya Rp60.000. Akankah situasi ini terus berlanjut atau akan berakhir? Hingga kini kita masih menunggu kebijakan baru dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini, menekan melambungnya harga komuditi di pasaran yang akhi-akhir ini membuat harga-harga melambung tinggi.